Dalam acara pernikahan yang meriah teman kami yang bernama Kismis Danuar Wati Ngadina.
"Aku masih tidak percaya kalau ada orang yang mempunyai nama Kismis," kataku menahan tawa.
"Aku masih tidak percaya kalau ada orang yang mempunyai nama Kismis," kataku menahan tawa.
"Aku juga masih tidak percaya kalau Kismis akhirnya menikah. Apakah kamu masih bisa berdiri tegak kalau ternyata nama suaminya Roti?" kata Dian sahabatku dan spontan membuat tawaku meledak.
"Sssttttt, jangan keras-keras. Dasar kau tidak tahu malu," kata Dian sambil melirik ke orang disekitar kami dengan wajah terlihat menahan tawa yang hampir meledak pula.
"Aku bertaruh mereka akan bercerai dalam waktu satu bulan setelah Roti bertemu dengan selai coklat, stroberi, kacang...." tambahnya lagi yang akhirnya membuat tawa kami benar-benar meledak hingga membuat beberapa orang melihat kearah kami.
Tampaknya kebahagian kami yang berhubungan dengan Kismis telah berakhir saat pesta itu. Seminggu setelah bulan madu, mereka tidak terlihat seperti orang yang sedang saling jatuh cinta, mereka justru terlihat menyedihkan. Tak pelak lagi mereka menjadi bahan segar gosip teman-teman kantor pada saat acara makan siang.
"Pantas saja sebelum menikah status bbm mereka stress, boring, uring-uringan," kata seniorku dengan semangat penuh. "Itulah kalau kumpul kebo duluan sebelum menikah, dosa, itu namanya hukum karma, jelaslah setelah menikah mereka jadi sama-sama bosan," tambah seniorku yang memang terkenal dengan julukan ratu gosip.
Aku malas berkomentar dan segera beranjak menuju kantorku. Namun baru beberapa langkah ada tangan halus menggapai pundakku dan menuntunku kearah toilet wanita.
"Tasy, aku hanya percaya padamu, aku tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan. Aku sudah memendam ini berbulan-bulan. Hubunganku dan Dimas sebenarnya sudah diambang perceraian. Aku sudah tidak tahan lagi Tasy," kata Kismis tersedu sambil memelukku. Semua kata-kata yang diucapkan teman-temanku termasuk seniorku terngiang kembali saat itu.
"Kis, tenangkan dirimu. Bukankah pernikahanmu baru saja dimulai? Ingat Kis, semua masalah pasti ada jalan keluarnya," kataku terdengar klise. "Kamu bisa ke psikiater atau ke psikolog lah apalah namanya, yang penting berusahalah sedikit. Pernikahanmu baru seumur jagung Kis," tambahku.
"Nha itu masalahnya Tasy, aku memang baru menikah, tapi aku sudah kumpul sama kerbau itu selama dua tahun. Dia baik-baik saja, tidak ada yang aneh dalam kehidupannya. Dia bukan pemuja setan, tidak pernah selingkuh dan memperlakukan aku sebagai wanita terhormat yang paling dia cintai. Kehidupan kami sangat sempurna waktu itu. Bahkan dia selalu memarahi ibunya kalau ibunya menegurku," kata Kismis membuatku heran namun juga mampu membuatku tersenyum dalam hati. Apa reaksi Dian kalau aku mengatakan bahwa selama ini Kismis ternyata berkumpul dengan kerbau dan bukan roti, jelas saja tidak cocok, pikirku.
"Tasy," bentak Kismis dengan wajah marah melihat wajahku yang jelas menyembunyikan sebuah senyuman.
"Oh, pasti suamimu sudah tidak mencintaimu lagi ya?" aku asal menebak.
"Bukan, dia masih mencintaiku, masih memarahi ibunya demi aku, tapi dia gila Tasy," Kismis sudah agak tenang namun masih terisak dan terguncang dadanya.
"Maksudku Tasy, kamu kan kenal banyak pengacara bisa kan kamu menolong aku?" kata Kismis lagi dengan tatapan nanar.
"Bukannya aku tidak mau Kis, tapi tolong pikirkan lagi, jangan mengikuti emosi sesaat," kataku berusaha memberinya semangat.
"Aku tidak mau mati duluan Tasy, lihat ini!" kata Kismis sambil memperlihatkan dadanya yang penuh dengan luka lebam.
"Kis, ya Tuhan Kismis," mataku terbelalak dan bulu kudukku merinding.
"Apakah kamu masih akan menyuruhku untuk mempertahankan perkawinanku. Apa kamu tega melihatku mati perlahan-lahan?" katanya sambil terisak lagi.
"Tidak Kis, aku akan melakukan semampuku, kamu harus dilindungi. Jangan pulang kerumah dulu, tinggallah bersamaku sebagai langkah awalmu untuk menentukan sikap terhadap suamimu," kataku memahami penderitaannya.
Dalam beberapa minggu dengan bantuan Dian yang seorang pengacara, Kismis sudah bercerai dari Dimas, bukan itu saja, bahkan Dian mampu mencebloskan Dimas kedalam penjara dengan tuduhan KDRT.
Aku tidak mengerti dengan hubungan Kismis dan Kerbau yang kumpul kebo selama beberapa tahun. Bukankah seharusnya mereka sudah saling memahami dan menyelami karakter masing-masing. Lebih siap dan lebih mengerti antara satu sama lain, namun dalam kasus ini semua itu tidak berlaku. Apakah mungkin seniorku benar bahwa semua ini berhubungan dengan dosa. Dan apakah dosa ini hanya berlaku pada Kismis dan tidak berlaku pada pasangan kumpul kebo yang banyak berakhir dengan biasa-biasa saja bahkan ada yang luar biasa.
Dari semua kejadian Kismis, aku tidak bisa membayangkan malam-malam siksaan yang harus dilalui oleh Kismis. Tudingan dari orang-orang disekitarnya, yang dengan seenaknya menghakimi tanpa melihat apa yang telah dilalui olehnya. Namun, lepas dari itu semua, aku bersyukur, Kismis lebih fokus degan hidup dan kebahagiannya sendiri. Semangat temanku......
No comments:
Post a Comment