"Aku pikir, PRT adalah pahlawan bagi kaum ibu. Sedangkan PSK adalah pahlawan bagi kaum bapak," kata ibu Nudi pada acara arisan di rumahnya. Tentu saja sebagaian dari kami ada yang cemberut, ada yang tertawa bahkan ada yang langsung memakinya.
"Kalau mereka sama-sama pahlawan kenapa semua PSK tidak mau jadi PRT. Saya pikir PRT lebih terhormat daripada PSK, karena apapun alasannya, mencari uang dengan cara menjual lendir itu sangat menjijikkan bagi saya," kataku agak panas.
"Eh, jaman sekarang ada panggilan yang lebih keren buat mereka. Cewek Bispak, Bisa pake," kata bu Wiwin sambil tertawa.
"Apapun namanya itu melanggar standar moralitas bagi saya Bu," kataku semakin panas.
"Tasya, kamu masih belum banyak mengerti. Terkadang cewek bispak membantu sebuah rumahtangga tetap menjadi utuh. Mereka yang tampil mesra dengan pasangannya, saling pengertian, saling mencintai dan mencumbu didepan umum terkadang mempunyai penyakit didalam. Mamanya Dona misalnya. Tapi jangan bilang-bilang ya ibu-ibu, dia pernah menyuruh suaminya untuk merayuku tapi aku tidak mau. Ternyata belakangan aku dengar mereka sering kedatangan tamu perempuan cantik dan ternyata perempuan itu Bispak yang biasa mangkal di kafe remang," kata ibu Wiwin.
"Iyu, benarkah ada perempuan yang mau berbagi suami?" Cerita yang tidak masuk akal bagiku. Mungkin saja temannya Ibu seorang lesbian," kataku spontan dan membuat semua orang terdiam.
"Itu namanya bisex bukan lesbian," kata bu Wiwin lagi.
Aku terlibat obrolan seru tentang sex dengan para ibu, namun semuanya hanya tentang mama Dona yang kebetulan sangat saya kenal. Orangnya baik dan sangat santun, apalagi suaminya sangat terpandang dilingkunganku.
Keesokan harinya aku terkejut ketika berpapasan didepan Mall dengan mama Dona, aku berusaha menghindar namun sudah terlambat karena dia sedang melambaikan tangan kearahku.
"Hei Tasya, terimakasih sudah menyebutku lesbian diacara arisan kemarin. Ternyata kalian tidak lebih baik dari aku, kalian membicarakan aku dan suamiku dibelakangku," kata mama Dona tenang dan membuatku sangat heran.
"Oh, maaf kemarin saya hanya merespon pembicaraan ibu-ibu saja. Tapi bagaimana Mbak tahu?" tanyaku keheranan.
"Sudahlah, gak papa, nanti sore datang saja ketempatku ya. Dona lagi pergi sama neneknya. Suamiku juga pulang malam. O, ya ambil saja apa yang kamu suka, aku tunggu dikasir, nanti aku yang bayar," kata mama Dona dengan sedikit mengerling padaku.
Aku takut dan hanya tersenyum lalu pergi dan mengurungkan niatku untuk belanja. Sedangkan sore hari, ketika aku memutuskan pergi kerumah mama Dona dan memutuskan untuk meminta maaf, aku mendapat sebuah kejutan.
Mama Dona berbalut lingerie seksi dan high heels warna pink menggoda. Tangannya menjamah pundakku dan membuat jantungku berdegub kencang.
"Sini Tasya sayangku, sudah lama aku ingin jujur padamu, kalau sebenarnya aku mencintaimu. Aku selalu membayangkan wajahmu saat suamiku meniduriku," kata mama Dona terdengar mengerikan bagiku.
Aku diam dan menurut saat tangan mama Dona menarik aku ke kamarnya. Ada satu perempuan cantik yang berpakaian sama sedang berpose cabul menyeringai kearahku. Aku menarik nafas panjang untuk memberi oksigen pada otakku yang beku dan tidak mampu berpikir, karena perempuan itu tidak lain dan tidak bukan melainkan ibu Wiwin.
"Ayolah Tasya sayang, buka bajumu dan berpesta dengan kami," kalimat mama Dona yang terakhir kali kudengar. Karena aku sudah lari terbirit-birit menuju motorku dan tancap gas dengan tangan gemetar dan jantung yang masih berdegub kencang.
Sesampainya dirumah, otakku kacau balau. Aku kalap dan minum beberapa gelas air putih lalu mengambil sekarton susu coklat di almari es untuk aku jejalkan ke mulutku agar otakku sadar.
**********
Aku sama sekali tidak ingin menghakimi cara orang mencari kepuasan. Namun kejadian yang baru saja aku lalui merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Satu hal lagi yang membuatku heran adalah ketika keesokan hari aku bertemu dengan mereka, mama Dona dan bu Wiwin. Mereka menyapaku dengan senyuman teramahnya. Berbasa basi dengan manis yang membuatku menelan lebih banyak air liurku.
Aku berpikir, pengalaman hidup apa yang membuat mereka seperti itu. Apakah mereka kaum PSK atau Bispak? karena mereka berperilaku seperti itu? TIDAK, mereka tetap kaum terhormat, pergi bersama anak dan suami, makan di restaurant dan tertawa bersama keluarga.
Namun mereka lebih menakutkan daripada cewek Bispak bagiku.
No comments:
Post a Comment