Sunday, 5 July 2015

Apakah Kita Tidak Lebih Baik Daripada Binatang?

         "Agama apapun itu dibuat untuk membatasi kehidupan sex seseorang, begitu kata Samantha dalam Sex On the City," kata Putri sambil tersenyum geli. "Menurut kamu gimana Tasy?"
         Aku jelas kelabakan mendapat pertanyaan seperti itu. "Menurutmu sendiri Put?" Kataku balik bertanya. 
         "Aku setuju. Sumpah lo Tasy, aku ingin sekali mencium Samantha waktu dia bilang 'kita seharusnya bebas melakukan sex kapan saja dan dengan siapapun yang sesuai dengan keinginan kita', masuk akal kan Tasy," kata Putri dengan mimik serius.
         Aku mengangkat bahu sambil berkata,"Bukankah itu berarti akhirnya kita seperti binatang?"
        "Memang apa salahnya kalau kita seperti binatang? Bukankah binatang hanya membunuh karena instingnya untuk memenuhi kebutuhannya ketika mereka lapar? na kita manusia?" tanya Putri sambil membesarkan bentuk matanya yang bulat dan indah. "Lihat kambing misalnya Tasy, dia akan puas hanya karena bebas merumput bersama kawanannya. Sedangkan kita manusia, sangat sulit membuat manusia bisa puas. Selalu saja ada yang kurang. Buktinya, banyak sekali perselingkuhan, korupsi, kebohongan, dan segala macam, hanya karena ego manusia yang sulit untuk dipuaskan," Kata Putri mencoba meyakinkanku.
        "Mungkin juga Put, tapi yang jelas aku tidak ingin pergi ke restaurant dimana kamu sedang melakukan sex hanya karena kamu menginginkannya saat itu. Apalagi kamu melakukan dengan pelayan restaurant yang baru kamu kenal hanya karena kamu menginginkannya," kataku sambil terbahak.
           "Kenapa memangnya Tasy? seandainya aku menemukan pelayan yang sesuai dengan seleraku, akan aku makan makanan yang dibawanya sama orang-orangnya sekalian," kata Putri ikut tertawa lepas. Sedangkan aku hanya tertawa masam.
           "Bagiku Put, making love akan terasa indah jika kita melakukan dengan orang yang kita cintai. Misalnya saat kamu melakukan dengan suamimu, bukankah berbeda jika kamu melakukan dengan bukan suamimu?" kataku santai.
           "Betul juga sih, namun sulit menjelaskan padamu Tasy, nanti kalau kamu sudah menikah kamu pasti mengerti. Dan aku bersyukur kepada Tuhan karena aku dikaruniai libido yang tinggi. Begitu aku melihat pria yang menarik aku tidak menunggu untuk jatuh cinta karena aku langsung menganggap dia miliku," kata Putri dengan senyum nakalnya.
            "Dasar kamu agak miring Put, aku mau kerja dulu nieh," kataku berusaha lari dari percakapan Putri yang gila.
            Mungkin benar adanya bahwa sebagian dari manusia tidak lebih baik dari binatang. Hal itu berlaku bagi para pembunuh anak kandung, pemerkosa anak balita bahkan penyiksa manusia ataupun binatang hanya demi kesenangan. Sedangkan binatang, terkadang mereka berlaku setia kepada majikan sang pemberi makan. Mereka nyaman dan tenang ketika perut mereka sudah kenyang. Lantas sebagai manusia yang konon adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, mampukah kita untuk menaikan derajat menjadi benar-benar mendekati sempurna. 
           Bertindak tenang, damai, jujur dan bahagia dengan apa yang melekat pada diri masing-masing tanpa membandingkan dengan apa yang melekat pada orang lain. Meninggalkan ego dan keinginan untuk mengutuk orang yang tidak sama nasibnya bahkan mau menolong dan selalu saling menjaga. Akankah.......
 
        

No comments:

Post a Comment