Friday, 3 July 2015

Fantasi Dinda

       "Aku berdiri dipinggir jalan ketika sebuah mobil menghampiriku, kemudian sang sopir membuatku naik kedalam mobilnya dan membawaku ke pinggir pantai yang sepi. Laki-laki itu menciumiku, mencumbuku sampai akhirnya kami menemukan kenikmatan yang belum pernah kami rasakan," kata Dinda dengan mata menerawang.
        "Iyu, iyu....., kalian menjijikan," kataku dengan nada menghakimi.
       "Suatu saat, kalau usia pernikahanmu sama seperti kami, dimana gairah adalah suatu kemewahan kamu harus mencobanya. Tinggalkan anak-anak dengan pembantu sebentar, kemudian ajak suamimu ke pinggir pantai yang sepi dan biarkan dia memainkanmu disana. Tapi jangan lupa untuk mengunci pintu karena jika kamu sudah mulai merasakan sensasinya, kamu tidak akan mengingat apapun," kata Dinda dengan senyum riang.
        "Apakah tidak berbahaya Din? Terus apa boleh menurut ajaran agama?" tanyaku penasaran.
      "Tentu tidak bahaya, selama kita berhati-hati. Dan kenapa kamu harus merusak kesenanganku dengan berbagai macam pertanyaanmu Tasy?" Jawab Dinda kali ini dengan muka yang agak masam.
         "Ok, maaf. Lanjutkan deh ceritanya, aku jadi penasaran," kataku dengan tersenyum.
         "Sejak saat itu, kami sering melakukan fantasi sex, aku menjadi Inem pelayan seksi dia menjadi majikan yang kurang ajar, aku menjadi sekretaris dan dia menjadi bos nakal dan masih banyak lagi. Kami pernah main ditoilet bandara waktu kami berperan sebagai penjahat dan dia menjadi seorang Intel," Dinda antusias menceritakan semua pengalaman sexnya di tempat umum kepadaku.
        "Hm... bagaimana dengan anak-anak Din?" tanyaku berhati-hati.
        "Anak-anak seperti biasa, dijaga sama mbak Parti," kata Dinda sambil menyesap kopi pahitnya.
        "Oh, aku senang kamu bisa mengatasi sendiri masalah kehidupan sex mu Din. Aku mengerti gairah sex dalam kehidupan rumahtangga semakin lama semakin padam sesuai dengan bertambahnya usia. Namun, bukankah akan tergantikan dengan keharmonisan dan cinta yang lebih bijaksana. Bukankah hal itu yang lebih indah dalam hidup. Semuanya akan lebih bermakna dan damai," kataku mencoba mendifinisikan arti pernikahan yang berusia lebih dari sepuluh tahun lamanya dengan lebih bijak.

         "Apakah kamu sudah berhenti ngomong? karena sepertinya aku tertidur lama sekali. Come on Tasy, kenapa kamu jadi orang yang paling membosankan. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa kamu membutuhkan banyak orgasme karena kamu pantas untuk mendapatkan. Dan sex dalam rumah tangga seperti lampu penerang, jika tidak ada penerang siapa yang mau tinggal didalamnya. Semua jadi serba menakutkan bukan apabila kita tinggal didalam kegelapan?" Dinda mengucapkan semua kalimatnya yang membuatku terasa geli dan ingin tertawa.

         "Apakah semua rumahtangga hanya tentang sex Din? Bukankah anak-anak juga merupakan sumber kebahagian, suami yang memberimu senyum dan memberi semua apa yang kamu dan anak-anak butuhkan. Bukankah semua itu penerang dalam rumahtangga Din?" tanyaku dengan nada menyerang.
         "Tasy, apa kamu tidak pernah mendengar pernikahan yang berakhir dengan permusuhan, padahal terkadang keduanya sudah memiliki anak, sama-sama orang berpendidikan, keluarga yang mampu dan tercukupi. Atau yang lebih buruk lagi, keluarga yang bahagia diluar dan letih lesu didalamnya," kata Dinda berapi-api.
          "Maksudmu Din," tanyaku dengan kosentrasi penuh.
        "Yah, tinggal dirumah mewah memiliki segalanya tapi penghuninya tidak bahagia, apa mereka tidak saling mencintai? Tidak Tasy, itu semua karena kurang kepuasan. Aku tidak ingin berakhir seperti mereka. Suami kemana, istri dimana, anak-anak sama siapa. Aku puas setelah menemukan cara mengatasi kehidupan sex rumahtangga kami. Suamiku jadi lebih sering memberiku hadiah dan lebih menghargaiku. Dan yang lebih asyik lagi, setiap masakanku tidak enak, dia memaklumi karena keesokan hari aku akan menyewa kostum untuk membahagiakannya," kata Dinda tanpa keraguan sedikitpun.
         "Good for you Din, pertahankan!" kataku basa basi dan kami akhirnya terdiam memikirkan fantasi sex masing-masing sambil tersenyum.
         Apakah benar sex faktor utama, bagaimana dengan agama? Apakah agama tidak bisa dicampur dengan keinginan hasrat. Apakah mampu otak kita memilah-milah, mengangkat semuanya menjadi penerang dalam berumah tangga? atau agama hanya penerang jiwa agar kita melakukan dengan kesungguhan, menjaga semuanya tetap dalam batasan-batasan. Tetapi apakah menyenangkan jika sesuatu itu berada dalam batasan-batasan?
         Namun satu pelajaran yang aku ambil dari pengalaman Dinda. Dia berusaha tidak munafik dalam mencari kesenangan pribadinya. Tidak perduli dan liar dalam menyenangkan kehidupan sex nya dan sepertinya itu membuatnya selalu bahagia dan tersenyum lepas.


     

No comments:

Post a Comment