Wednesday, 8 July 2015

Suamiku Seligkuh Dengan Gengnya, So aku Selingkuh dengan Selingkuhanku...

          "Apa artinya aku memiliki suami yang suka pergi bersama teman-temannya. Selalu bahagia bila berkumpul dengan temannya, melakukan percakapan seru, tertawa lepas, namun selalu mencela apapun yang aku lakukan," kata Bella dengan muka masam.
         "Hm, setiap laki-laki seperti itu Bell. Mereka makhluk Tuhan yang paling egois, sedangkan kita adalah makhluk Tuhan yang paling seksi," balasku ringan.
         "Yah, aku bosan harus mendengar suara keras mereka. Tapi aku juga bosan ditinggal pergi terus sama mas Irwan. Aku pikir mereka selingkuh massal dan mereka saling melindungi satu sama lain. Ya kan Tasy, aku butuh instingmu saat ini. Kamu selalu pintar dalam hal memecahkan kode kejahatan," kata Bella membuat aku menghentikan aktifitasku.
        "Hei, kamu lebay sekali Bell," kataku sambil melihat tajam kearahnya. "Dengar ya Bell, sepengetahuanku laki-laki normal suka hangout bersama teman-temannya, seperti kita begini. Bukankah kita juga senang belanja dan ke salon bareng? seperti itulah laki-laki. Mereka juga suka nonton bola bareng. Sama persis Bell," kataku sambil kembali memilih baju.
        "Hm, aku sering selingkuh setelah kita belanja Bell. Aku memang kesini untuk menemuimu, kemudian menelepon suamiku untuk memberitahu kalau aku disini bersamamu, lalu aku menyuruh mantanku untuk menjemputku," Bella mengejutkanku dengan informasi terbaru tentangnya.
          Aku masih terbengong saat dia bilang," aku liburan sebentar dari pernikahanku. Aku meminum obat agar aku mampu bertahan dalam kehidupan rumahtanggaku," kata Bella dengan senyum yang membuatku lebih terheran.
           Aku menggigit bibir bawahku. "Please Bell, serius luh! Sumpah aku tidak ingin menghakimi karena itu seratus persen hakmu. Tapi please, kamu tahu mana yang benar dan mana yang tidak," kataku dengan jantung berdebar-debar.
             "Dan Bella, lain kali pikirkan dulu apa yang seharusnya kamu sampaikan kepada orang lain dan apa yang harus kamu simpan sendiri. Secara tidak langsung, kamu membuatku terlibat dalam perselingkuhanmu dengan mantanmu. Iyu... iyu.... brengs** kamu Bell. Apa yang sudah kamu lakukan Bell? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Mas Irwan kalau mengetahui ini semua dan kamu melibatkanku didalamnya. Sumpah, aku tidak sanggup menampakkan diriku didepan mas Irwan. Aku tidak pernah berpikir kalau kamu sanggup melakukan hal seperti ini," kataku terdengar ketus.
           "Hei, kamu menghakimi aku Tasy, kamu belum berumahtangga, kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan, kamu tidak berhak bicara seperti itu padaku. Kamu tidak mengerti kalau mas Irwan yang duluan selingkuh bersama teman-temannya. Aku bukan boneka yang bisa diam dikamar menunggu dia datang dan membuka baju saat dia meminta. Aku butuh rasa sayang, perhatian, bukan sekedar didandani dengan dilempar uang untuk ke salon dan membeli baju mahal agar enak dipeluk saat malam hari. Dengar Tasy, aku pikir kamu temanku dan lebih bisa mengerti aku. Aku juga menyesal memberitahumu!" kata Bella ketus sambil pergi meninggalkanku dengan wajah bengong seperti orang paling bodoh didunia.
          "Bell, tunggu!" teriakku yang samasekali tidak dihiraukan oleh Bella. 
        Aku terdiam dan memandang semua baju yang aku pilih kemudian berjalan pulang setelah meminta maaf kepada pemilik toko. 
           Mungkin Bella benar kalau aku memang menghakimi apa yang telah dia lakukan. Namun satu hal yang harus Bella ketahui, sebagai teman, aku ingin melindunginya dari rasa sakit akibat tindakannya. Diakui atau tidak, cepat ataupun lambat sesuatu yang tidak benar pada akhirnya akan menyakiti dirinya sendiri.
           Aku masih menganggap Bella sebagai temanku apapun yang telah dia lakukan. Mungkin ini klise tapi ini benar, aku tidak membencinya, namun aku membenci apa yang telah dia lakukan. Kesalahannya bukan menyakitiku, namun paling tidak itu akan menyakiti dirinya sendiri.
          Aku memang tidak berhak menilai apalagi menghakimimu teman, karena statusku masih manusia yang juga sering berbuat salah, so jaga dirimu and stay happy....


Tuesday, 7 July 2015

Karma, Hukuman atau Hikmah? Kumpul Kebo

            Dalam acara pernikahan yang meriah teman kami yang bernama Kismis Danuar Wati Ngadina.   
 "Aku masih tidak percaya kalau ada orang yang mempunyai nama Kismis," kataku menahan tawa.
          "Aku juga masih tidak percaya kalau Kismis akhirnya menikah. Apakah kamu masih bisa berdiri tegak kalau ternyata nama suaminya Roti?" kata Dian sahabatku dan spontan membuat tawaku meledak.
          "Sssttttt, jangan keras-keras. Dasar kau tidak tahu malu," kata Dian sambil melirik ke orang disekitar kami dengan wajah terlihat menahan tawa yang hampir meledak pula.
         "Aku bertaruh mereka akan bercerai dalam waktu satu bulan setelah Roti bertemu dengan selai coklat, stroberi, kacang...." tambahnya lagi yang akhirnya membuat tawa kami benar-benar meledak hingga membuat beberapa orang melihat kearah kami.  
          Tampaknya kebahagian kami yang berhubungan dengan Kismis telah berakhir saat pesta itu. Seminggu setelah bulan madu, mereka tidak terlihat seperti orang yang sedang saling jatuh cinta, mereka justru terlihat menyedihkan. Tak pelak lagi mereka menjadi bahan segar gosip teman-teman kantor pada saat acara makan siang.
          "Pantas saja sebelum menikah status bbm mereka stress, boring, uring-uringan," kata seniorku dengan semangat penuh. "Itulah kalau kumpul kebo duluan sebelum menikah, dosa, itu namanya hukum karma, jelaslah setelah menikah mereka jadi sama-sama bosan," tambah seniorku yang memang terkenal dengan julukan ratu gosip.
          Aku malas berkomentar dan segera beranjak menuju kantorku. Namun baru beberapa langkah ada tangan halus menggapai pundakku dan menuntunku kearah toilet wanita.
          "Tasy, aku hanya percaya padamu, aku tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan. Aku sudah memendam ini berbulan-bulan. Hubunganku dan Dimas sebenarnya sudah diambang perceraian. Aku sudah tidak tahan lagi Tasy," kata Kismis tersedu sambil memelukku. Semua kata-kata yang diucapkan teman-temanku termasuk seniorku terngiang kembali saat itu.
            "Kis, tenangkan dirimu. Bukankah pernikahanmu baru saja dimulai? Ingat Kis, semua masalah pasti ada jalan keluarnya," kataku terdengar klise. "Kamu bisa ke psikiater atau ke psikolog lah apalah namanya, yang penting berusahalah sedikit. Pernikahanmu baru seumur jagung Kis," tambahku.
             "Nha itu masalahnya Tasy, aku memang baru menikah, tapi aku sudah kumpul sama kerbau itu selama dua tahun. Dia baik-baik saja, tidak ada yang aneh dalam kehidupannya. Dia bukan pemuja setan, tidak pernah selingkuh dan memperlakukan aku sebagai wanita terhormat yang paling dia cintai. Kehidupan kami sangat sempurna waktu itu. Bahkan dia selalu memarahi ibunya kalau ibunya menegurku," kata Kismis membuatku heran namun juga mampu membuatku tersenyum dalam hati. Apa reaksi Dian kalau aku mengatakan bahwa selama ini Kismis ternyata berkumpul dengan kerbau dan bukan roti, jelas saja tidak cocok, pikirku.
            "Tasy," bentak Kismis dengan wajah marah melihat wajahku yang jelas menyembunyikan sebuah senyuman.
            "Oh, pasti suamimu sudah tidak mencintaimu lagi ya?" aku asal menebak.
            "Bukan, dia masih mencintaiku, masih memarahi ibunya demi aku, tapi dia gila Tasy," Kismis sudah agak tenang namun masih terisak dan terguncang dadanya.
            "Maksudku Tasy, kamu kan kenal banyak pengacara bisa kan kamu menolong aku?" kata Kismis lagi dengan tatapan nanar.
             "Bukannya aku tidak mau Kis, tapi tolong pikirkan lagi, jangan mengikuti emosi sesaat," kataku berusaha memberinya semangat.
              "Aku tidak mau mati duluan Tasy, lihat ini!" kata Kismis sambil memperlihatkan dadanya yang penuh dengan luka lebam.
               "Kis, ya Tuhan Kismis," mataku terbelalak dan bulu kudukku merinding.
               "Apakah kamu masih akan menyuruhku untuk mempertahankan perkawinanku. Apa kamu tega melihatku mati perlahan-lahan?" katanya sambil terisak lagi.
              "Tidak Kis, aku akan melakukan semampuku, kamu harus dilindungi. Jangan pulang kerumah dulu,  tinggallah bersamaku sebagai langkah awalmu untuk menentukan sikap terhadap suamimu," kataku memahami penderitaannya.
               Dalam beberapa minggu dengan bantuan Dian yang seorang pengacara, Kismis sudah bercerai dari Dimas, bukan itu saja, bahkan Dian mampu mencebloskan Dimas kedalam penjara dengan tuduhan KDRT.
               Aku tidak mengerti dengan hubungan Kismis dan Kerbau yang kumpul kebo selama beberapa tahun. Bukankah seharusnya mereka sudah saling memahami dan menyelami karakter masing-masing. Lebih siap dan lebih mengerti antara satu sama lain, namun dalam kasus ini semua itu tidak berlaku. Apakah mungkin seniorku benar bahwa semua ini berhubungan dengan dosa. Dan apakah dosa ini hanya berlaku pada Kismis dan tidak berlaku pada pasangan kumpul kebo yang banyak berakhir dengan biasa-biasa saja bahkan ada yang luar biasa.
             Dari semua kejadian Kismis, aku tidak bisa membayangkan malam-malam siksaan yang harus dilalui oleh Kismis. Tudingan dari orang-orang disekitarnya, yang dengan seenaknya menghakimi tanpa melihat apa yang telah dilalui olehnya. Namun, lepas dari itu semua, aku bersyukur, Kismis lebih fokus degan hidup dan kebahagiannya sendiri. Semangat temanku......

Monday, 6 July 2015

oh No.... Are You Crazy?

         "Aku pikir, PRT adalah pahlawan bagi kaum ibu. Sedangkan PSK adalah pahlawan bagi kaum bapak," kata ibu Nudi pada acara arisan di rumahnya. Tentu saja sebagaian dari kami ada yang cemberut, ada yang tertawa bahkan ada yang langsung memakinya.
          "Kalau mereka sama-sama pahlawan kenapa semua PSK tidak mau jadi PRT. Saya pikir PRT lebih terhormat daripada PSK, karena apapun alasannya, mencari uang dengan cara menjual lendir itu sangat menjijikkan bagi saya," kataku agak panas.
           "Eh, jaman sekarang ada panggilan yang lebih keren buat mereka. Cewek Bispak, Bisa pake," kata bu Wiwin sambil tertawa.
           "Apapun namanya itu melanggar standar moralitas bagi saya Bu," kataku semakin panas.
          "Tasya, kamu masih belum banyak mengerti. Terkadang cewek bispak membantu sebuah rumahtangga tetap menjadi utuh. Mereka yang tampil mesra dengan pasangannya, saling pengertian, saling mencintai dan mencumbu didepan umum terkadang mempunyai penyakit didalam. Mamanya Dona misalnya. Tapi jangan bilang-bilang ya ibu-ibu, dia pernah menyuruh suaminya untuk merayuku tapi aku tidak mau. Ternyata belakangan aku dengar mereka sering kedatangan tamu perempuan cantik dan ternyata perempuan itu Bispak yang biasa mangkal di kafe remang," kata ibu Wiwin.
        "Iyu, benarkah ada perempuan yang mau berbagi suami?" Cerita yang tidak masuk akal bagiku. Mungkin saja temannya Ibu seorang lesbian," kataku spontan dan membuat semua orang terdiam. 
          "Itu namanya bisex bukan lesbian," kata bu Wiwin lagi. 
         Aku terlibat obrolan seru tentang sex dengan para ibu, namun semuanya hanya tentang mama Dona yang kebetulan sangat saya kenal. Orangnya baik dan sangat santun, apalagi suaminya sangat terpandang dilingkunganku.
         Keesokan harinya aku terkejut ketika berpapasan didepan Mall dengan mama Dona, aku berusaha menghindar namun sudah terlambat karena dia sedang melambaikan tangan kearahku.
         "Hei Tasya, terimakasih sudah menyebutku lesbian diacara arisan kemarin. Ternyata kalian tidak lebih baik dari aku, kalian membicarakan aku dan suamiku dibelakangku," kata mama Dona tenang dan membuatku sangat heran.
          "Oh, maaf kemarin saya hanya merespon pembicaraan ibu-ibu saja. Tapi bagaimana Mbak tahu?" tanyaku keheranan.
          "Sudahlah, gak papa, nanti sore datang saja ketempatku ya. Dona lagi pergi sama neneknya. Suamiku juga pulang malam. O, ya ambil saja apa yang kamu suka, aku tunggu dikasir, nanti aku yang bayar," kata mama Dona dengan sedikit mengerling padaku. 
           Aku takut dan hanya tersenyum lalu pergi dan mengurungkan niatku untuk belanja. Sedangkan sore hari, ketika aku memutuskan pergi kerumah mama Dona dan memutuskan untuk meminta maaf, aku mendapat sebuah kejutan.

            Mama Dona berbalut lingerie seksi dan high heels warna pink menggoda. Tangannya menjamah pundakku dan membuat jantungku berdegub kencang.
            "Sini Tasya sayangku, sudah lama aku ingin jujur padamu, kalau sebenarnya aku mencintaimu. Aku selalu membayangkan wajahmu saat suamiku meniduriku," kata mama Dona terdengar mengerikan bagiku.
              Aku diam dan menurut saat tangan mama Dona menarik aku ke kamarnya. Ada satu perempuan cantik yang berpakaian sama sedang berpose cabul menyeringai kearahku. Aku menarik nafas panjang untuk memberi oksigen pada otakku yang beku dan tidak mampu berpikir, karena perempuan itu tidak lain dan tidak bukan melainkan ibu Wiwin.
             "Ayolah Tasya sayang, buka bajumu dan berpesta dengan kami," kalimat mama Dona yang terakhir kali kudengar. Karena aku sudah lari terbirit-birit menuju motorku dan tancap gas dengan tangan gemetar dan jantung yang masih berdegub kencang.
             Sesampainya dirumah, otakku kacau balau. Aku kalap dan minum beberapa gelas air putih lalu mengambil sekarton susu coklat di almari es untuk aku jejalkan ke mulutku agar otakku sadar. 
**********
           Aku sama sekali tidak ingin menghakimi cara orang mencari kepuasan. Namun kejadian yang baru saja aku lalui merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Satu hal lagi yang membuatku heran adalah ketika keesokan hari aku bertemu dengan mereka, mama Dona dan bu Wiwin. Mereka menyapaku dengan senyuman teramahnya. Berbasa basi dengan manis yang membuatku menelan lebih banyak air liurku. 
        Aku berpikir, pengalaman hidup apa yang membuat mereka seperti itu. Apakah mereka kaum PSK atau Bispak? karena mereka berperilaku seperti itu?    TIDAK, mereka tetap kaum terhormat, pergi bersama anak dan suami, makan di restaurant dan tertawa bersama keluarga. 
         Namun mereka lebih menakutkan daripada cewek Bispak bagiku.


           

Sunday, 5 July 2015

Black Magic Woman ala Dina

      
        "Tasya, aku akan membuat cincin dan gelang yang dipakai Om Farhan akan berpindah ketanganku dalam waktu 2 hari," kata Dina sangat yakin kepadaku. Aku hanya tersenyum karena aku sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan Dina.
       Selang beberapa hari, benar juga, Dina sudah menukar cincin dan gelang laki-laki menjadi uang tunai jutaan rupiah.
       "Tasy, aku mempunyai mangsa baru. Anak konglo, lumayan ganteng dan anaknya royal," kata Dina sambil membuka-buka buku yang baru saja dia beli dari Gramedia.
       "Ah, terus mau kamu apain Om Farhan. Terus gimana caranya kamu ngegaet cowok baru tu?" kataku sekedar ingin tahu.
       "Yah itu mah bukan masalah, Om Farhan pelit aku tinggalin aja, dia cuma ngasih aku perhiasan padahal aku pingin mobil yang dia bawa. Tenang aja Tasy, setiap cowok yang aku tatap jempol kakinya, dia pasti tergila-gila padaku," kata Dina dengan bangganya.
      "Hah.....," Aku terkejut dengan mulut menganga.
     "Kok bisa?" kataku lagi.
      "Aku punya aji-ajian dari dukun Banyuwangi. Jos gandos, aku bisa mendapatkan siapa saja yang aku mau Tasy. Kalau kamu mau aku mau kok nganterin kamu, biar ilang tuh status jomblo kamu," kata Dina setengah berbisik kepadaku.
      "Ayo kita makan aku yang traktir, di restaurant manapun yang kamu mau aku oke aja," kata Dina riang tanpa beban.
      "Sorry Din, aku masih kenyang. Lain waktu saja ya. Aku mau kerja dulu nih, sampai ketemu ya," kataku terburu-buru.

      Didalam perjalanan menuju kantor aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang aku lakukan jika setiap pria yang aku tatap jempol kakinya jatuh cinta padaku?
      Apa yang akan aku lakukan jika banyak pria jatuh cinta padaku dan mengejarku setiap waktu. Alangkah merepotkannya. Dan bagaimanapula jika pria yang aku suka justru memakai kaos kaki sepanjang waktu.  Aku tersenyum sendiri membayangkan kekuatan super seperti itu.

     Bagiku tidak ada keindahan cinta yang bisa mengalahkan proses dalam penemuan dan pencapaian.   Proses pendekatan, penyesuaian, saling mengerti sampai akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan orang yang tepatlah proses yang aku cari.

     Pada akhirnya beberapa bulan kemudian aku menemukan Dina sedang mengandung lima bulan tanpa mengetahui siapa ayah dari bayinya. Aku bertanya dalam hati, masihkah dia mempunyai kekuatan super itu disaat dia mengandung seorang bayi. Aku tersenyum......

Apakah Kita Tidak Lebih Baik Daripada Binatang?

         "Agama apapun itu dibuat untuk membatasi kehidupan sex seseorang, begitu kata Samantha dalam Sex On the City," kata Putri sambil tersenyum geli. "Menurut kamu gimana Tasy?"
         Aku jelas kelabakan mendapat pertanyaan seperti itu. "Menurutmu sendiri Put?" Kataku balik bertanya. 
         "Aku setuju. Sumpah lo Tasy, aku ingin sekali mencium Samantha waktu dia bilang 'kita seharusnya bebas melakukan sex kapan saja dan dengan siapapun yang sesuai dengan keinginan kita', masuk akal kan Tasy," kata Putri dengan mimik serius.
         Aku mengangkat bahu sambil berkata,"Bukankah itu berarti akhirnya kita seperti binatang?"
        "Memang apa salahnya kalau kita seperti binatang? Bukankah binatang hanya membunuh karena instingnya untuk memenuhi kebutuhannya ketika mereka lapar? na kita manusia?" tanya Putri sambil membesarkan bentuk matanya yang bulat dan indah. "Lihat kambing misalnya Tasy, dia akan puas hanya karena bebas merumput bersama kawanannya. Sedangkan kita manusia, sangat sulit membuat manusia bisa puas. Selalu saja ada yang kurang. Buktinya, banyak sekali perselingkuhan, korupsi, kebohongan, dan segala macam, hanya karena ego manusia yang sulit untuk dipuaskan," Kata Putri mencoba meyakinkanku.
        "Mungkin juga Put, tapi yang jelas aku tidak ingin pergi ke restaurant dimana kamu sedang melakukan sex hanya karena kamu menginginkannya saat itu. Apalagi kamu melakukan dengan pelayan restaurant yang baru kamu kenal hanya karena kamu menginginkannya," kataku sambil terbahak.
           "Kenapa memangnya Tasy? seandainya aku menemukan pelayan yang sesuai dengan seleraku, akan aku makan makanan yang dibawanya sama orang-orangnya sekalian," kata Putri ikut tertawa lepas. Sedangkan aku hanya tertawa masam.
           "Bagiku Put, making love akan terasa indah jika kita melakukan dengan orang yang kita cintai. Misalnya saat kamu melakukan dengan suamimu, bukankah berbeda jika kamu melakukan dengan bukan suamimu?" kataku santai.
           "Betul juga sih, namun sulit menjelaskan padamu Tasy, nanti kalau kamu sudah menikah kamu pasti mengerti. Dan aku bersyukur kepada Tuhan karena aku dikaruniai libido yang tinggi. Begitu aku melihat pria yang menarik aku tidak menunggu untuk jatuh cinta karena aku langsung menganggap dia miliku," kata Putri dengan senyum nakalnya.
            "Dasar kamu agak miring Put, aku mau kerja dulu nieh," kataku berusaha lari dari percakapan Putri yang gila.
            Mungkin benar adanya bahwa sebagian dari manusia tidak lebih baik dari binatang. Hal itu berlaku bagi para pembunuh anak kandung, pemerkosa anak balita bahkan penyiksa manusia ataupun binatang hanya demi kesenangan. Sedangkan binatang, terkadang mereka berlaku setia kepada majikan sang pemberi makan. Mereka nyaman dan tenang ketika perut mereka sudah kenyang. Lantas sebagai manusia yang konon adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, mampukah kita untuk menaikan derajat menjadi benar-benar mendekati sempurna. 
           Bertindak tenang, damai, jujur dan bahagia dengan apa yang melekat pada diri masing-masing tanpa membandingkan dengan apa yang melekat pada orang lain. Meninggalkan ego dan keinginan untuk mengutuk orang yang tidak sama nasibnya bahkan mau menolong dan selalu saling menjaga. Akankah.......
 
        

Friday, 3 July 2015

Fantasi Dinda

       "Aku berdiri dipinggir jalan ketika sebuah mobil menghampiriku, kemudian sang sopir membuatku naik kedalam mobilnya dan membawaku ke pinggir pantai yang sepi. Laki-laki itu menciumiku, mencumbuku sampai akhirnya kami menemukan kenikmatan yang belum pernah kami rasakan," kata Dinda dengan mata menerawang.
        "Iyu, iyu....., kalian menjijikan," kataku dengan nada menghakimi.
       "Suatu saat, kalau usia pernikahanmu sama seperti kami, dimana gairah adalah suatu kemewahan kamu harus mencobanya. Tinggalkan anak-anak dengan pembantu sebentar, kemudian ajak suamimu ke pinggir pantai yang sepi dan biarkan dia memainkanmu disana. Tapi jangan lupa untuk mengunci pintu karena jika kamu sudah mulai merasakan sensasinya, kamu tidak akan mengingat apapun," kata Dinda dengan senyum riang.
        "Apakah tidak berbahaya Din? Terus apa boleh menurut ajaran agama?" tanyaku penasaran.
      "Tentu tidak bahaya, selama kita berhati-hati. Dan kenapa kamu harus merusak kesenanganku dengan berbagai macam pertanyaanmu Tasy?" Jawab Dinda kali ini dengan muka yang agak masam.
         "Ok, maaf. Lanjutkan deh ceritanya, aku jadi penasaran," kataku dengan tersenyum.
         "Sejak saat itu, kami sering melakukan fantasi sex, aku menjadi Inem pelayan seksi dia menjadi majikan yang kurang ajar, aku menjadi sekretaris dan dia menjadi bos nakal dan masih banyak lagi. Kami pernah main ditoilet bandara waktu kami berperan sebagai penjahat dan dia menjadi seorang Intel," Dinda antusias menceritakan semua pengalaman sexnya di tempat umum kepadaku.
        "Hm... bagaimana dengan anak-anak Din?" tanyaku berhati-hati.
        "Anak-anak seperti biasa, dijaga sama mbak Parti," kata Dinda sambil menyesap kopi pahitnya.
        "Oh, aku senang kamu bisa mengatasi sendiri masalah kehidupan sex mu Din. Aku mengerti gairah sex dalam kehidupan rumahtangga semakin lama semakin padam sesuai dengan bertambahnya usia. Namun, bukankah akan tergantikan dengan keharmonisan dan cinta yang lebih bijaksana. Bukankah hal itu yang lebih indah dalam hidup. Semuanya akan lebih bermakna dan damai," kataku mencoba mendifinisikan arti pernikahan yang berusia lebih dari sepuluh tahun lamanya dengan lebih bijak.

         "Apakah kamu sudah berhenti ngomong? karena sepertinya aku tertidur lama sekali. Come on Tasy, kenapa kamu jadi orang yang paling membosankan. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa kamu membutuhkan banyak orgasme karena kamu pantas untuk mendapatkan. Dan sex dalam rumah tangga seperti lampu penerang, jika tidak ada penerang siapa yang mau tinggal didalamnya. Semua jadi serba menakutkan bukan apabila kita tinggal didalam kegelapan?" Dinda mengucapkan semua kalimatnya yang membuatku terasa geli dan ingin tertawa.

         "Apakah semua rumahtangga hanya tentang sex Din? Bukankah anak-anak juga merupakan sumber kebahagian, suami yang memberimu senyum dan memberi semua apa yang kamu dan anak-anak butuhkan. Bukankah semua itu penerang dalam rumahtangga Din?" tanyaku dengan nada menyerang.
         "Tasy, apa kamu tidak pernah mendengar pernikahan yang berakhir dengan permusuhan, padahal terkadang keduanya sudah memiliki anak, sama-sama orang berpendidikan, keluarga yang mampu dan tercukupi. Atau yang lebih buruk lagi, keluarga yang bahagia diluar dan letih lesu didalamnya," kata Dinda berapi-api.
          "Maksudmu Din," tanyaku dengan kosentrasi penuh.
        "Yah, tinggal dirumah mewah memiliki segalanya tapi penghuninya tidak bahagia, apa mereka tidak saling mencintai? Tidak Tasy, itu semua karena kurang kepuasan. Aku tidak ingin berakhir seperti mereka. Suami kemana, istri dimana, anak-anak sama siapa. Aku puas setelah menemukan cara mengatasi kehidupan sex rumahtangga kami. Suamiku jadi lebih sering memberiku hadiah dan lebih menghargaiku. Dan yang lebih asyik lagi, setiap masakanku tidak enak, dia memaklumi karena keesokan hari aku akan menyewa kostum untuk membahagiakannya," kata Dinda tanpa keraguan sedikitpun.
         "Good for you Din, pertahankan!" kataku basa basi dan kami akhirnya terdiam memikirkan fantasi sex masing-masing sambil tersenyum.
         Apakah benar sex faktor utama, bagaimana dengan agama? Apakah agama tidak bisa dicampur dengan keinginan hasrat. Apakah mampu otak kita memilah-milah, mengangkat semuanya menjadi penerang dalam berumah tangga? atau agama hanya penerang jiwa agar kita melakukan dengan kesungguhan, menjaga semuanya tetap dalam batasan-batasan. Tetapi apakah menyenangkan jika sesuatu itu berada dalam batasan-batasan?
         Namun satu pelajaran yang aku ambil dari pengalaman Dinda. Dia berusaha tidak munafik dalam mencari kesenangan pribadinya. Tidak perduli dan liar dalam menyenangkan kehidupan sex nya dan sepertinya itu membuatnya selalu bahagia dan tersenyum lepas.