"Apa artinya aku memiliki suami yang suka pergi bersama teman-temannya. Selalu bahagia bila berkumpul dengan temannya, melakukan percakapan seru, tertawa lepas, namun selalu mencela apapun yang aku lakukan," kata Bella dengan muka masam.
"Hm, setiap laki-laki seperti itu Bell. Mereka makhluk Tuhan yang paling egois, sedangkan kita adalah makhluk Tuhan yang paling seksi," balasku ringan.
"Yah, aku bosan harus mendengar suara keras mereka. Tapi aku juga bosan ditinggal pergi terus sama mas Irwan. Aku pikir mereka selingkuh massal dan mereka saling melindungi satu sama lain. Ya kan Tasy, aku butuh instingmu saat ini. Kamu selalu pintar dalam hal memecahkan kode kejahatan," kata Bella membuat aku menghentikan aktifitasku.
"Hei, kamu lebay sekali Bell," kataku sambil melihat tajam kearahnya. "Dengar ya Bell, sepengetahuanku laki-laki normal suka hangout bersama teman-temannya, seperti kita begini. Bukankah kita juga senang belanja dan ke salon bareng? seperti itulah laki-laki. Mereka juga suka nonton bola bareng. Sama persis Bell," kataku sambil kembali memilih baju.
"Hm, aku sering selingkuh setelah kita belanja Bell. Aku memang kesini untuk menemuimu, kemudian menelepon suamiku untuk memberitahu kalau aku disini bersamamu, lalu aku menyuruh mantanku untuk menjemputku," Bella mengejutkanku dengan informasi terbaru tentangnya.
Aku masih terbengong saat dia bilang," aku liburan sebentar dari pernikahanku. Aku meminum obat agar aku mampu bertahan dalam kehidupan rumahtanggaku," kata Bella dengan senyum yang membuatku lebih terheran.
Aku menggigit bibir bawahku. "Please Bell, serius luh! Sumpah aku tidak ingin menghakimi karena itu seratus persen hakmu. Tapi please, kamu tahu mana yang benar dan mana yang tidak," kataku dengan jantung berdebar-debar.
"Dan Bella, lain kali pikirkan dulu apa yang seharusnya kamu sampaikan kepada orang lain dan apa yang harus kamu simpan sendiri. Secara tidak langsung, kamu membuatku terlibat dalam perselingkuhanmu dengan mantanmu. Iyu... iyu.... brengs** kamu Bell. Apa yang sudah kamu lakukan Bell? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Mas Irwan kalau mengetahui ini semua dan kamu melibatkanku didalamnya. Sumpah, aku tidak sanggup menampakkan diriku didepan mas Irwan. Aku tidak pernah berpikir kalau kamu sanggup melakukan hal seperti ini," kataku terdengar ketus.
"Hei, kamu menghakimi aku Tasy, kamu belum berumahtangga, kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan, kamu tidak berhak bicara seperti itu padaku. Kamu tidak mengerti kalau mas Irwan yang duluan selingkuh bersama teman-temannya. Aku bukan boneka yang bisa diam dikamar menunggu dia datang dan membuka baju saat dia meminta. Aku butuh rasa sayang, perhatian, bukan sekedar didandani dengan dilempar uang untuk ke salon dan membeli baju mahal agar enak dipeluk saat malam hari. Dengar Tasy, aku pikir kamu temanku dan lebih bisa mengerti aku. Aku juga menyesal memberitahumu!" kata Bella ketus sambil pergi meninggalkanku dengan wajah bengong seperti orang paling bodoh didunia.
"Bell, tunggu!" teriakku yang samasekali tidak dihiraukan oleh Bella.
Aku terdiam dan memandang semua baju yang aku pilih kemudian berjalan pulang setelah meminta maaf kepada pemilik toko.
Mungkin Bella benar kalau aku memang menghakimi apa yang telah dia lakukan. Namun satu hal yang harus Bella ketahui, sebagai teman, aku ingin melindunginya dari rasa sakit akibat tindakannya. Diakui atau tidak, cepat ataupun lambat sesuatu yang tidak benar pada akhirnya akan menyakiti dirinya sendiri.
Aku masih menganggap Bella sebagai temanku apapun yang telah dia lakukan. Mungkin ini klise tapi ini benar, aku tidak membencinya, namun aku membenci apa yang telah dia lakukan. Kesalahannya bukan menyakitiku, namun paling tidak itu akan menyakiti dirinya sendiri.
Aku memang tidak berhak menilai apalagi menghakimimu teman, karena statusku masih manusia yang juga sering berbuat salah, so jaga dirimu and stay happy....